Kata Kata Ku

Gemericik Kata

Memuat...

Sabtu, 29 Juni 2013

Risalah



Risalah Cinta Buat Tsabitah: TENTANG NAMAMU

Tsabitahku sayang...
Di hari aku membuat surat ini, kau baru terhitung bulan, baru tumbuh gigi, baru menelan makanan selain ASI. Umurmu pun masih terlalu muda mentah, ketika suatu saat kau mulai bisa membaca dan mengerti apa yang aku tulis.

Bagi kami orangtuamu. Kau adalah anugrah terindah dalam hidup keberduaan kami. Kau datang pada saat yang tepat, disaat kerinduan kami tentang anak seperti wajan berkerak, bernoda hitam arang. Disaat kesedihan kami tentang keterasingan serupa suara jangkrik berisik tak penting di pekat malam. Namun, kau memulas wajan menjadi bersih berkilau, lebih mengkilat dari detergen merk apapun. Kau aransemen semua suara jangkrik menjadi senandung alam yang syahdu, membuat kami yang mendengar tak henti mengucap syukur berkali-kali, berkali-kali.

Pertengahan bulan kesembilan di tahun dua ribu dua belas. Kau lahir. Betapa sukacitanya kami waktu itu. Wajahmu ranum terang diwarisi dari kemolekan Umimu, hidungmu mancung dan itu seperti hidungku. Kau cantik, imut dan menggemaskan. Aku tersenyum bahagia melihat Umimu tersenyum bahagia. Empat tahun kami menunggu kehadiranmu dengan harap cemas. Tak perlu ku ceritakan perihnya torehan menunggu dan pedihnya teriris merindu. Kelak, suatu saat kau akan pernah merasakan seperti juga semua orang merasakannya.

Tak pelak, kehadiranmu melarung semua kesedihan dan kepedihan kami. Kami merasa bahwa benar surga  itu ada, di dunia dan kehidupan setelahnya. Itulah hidup kami kini, berada ditengah-tengah nirwarna. Aku bahagia, Umimu bahagia, orang tua kami bahagia, orang-orang di sekitar kami yang bersimpati dan berempati atas kehidupan kamipun bahagia.

Lalu kami berpikir untuk segera menyematkan nama cantik kepadamu. Nama yang membuat kamu terdengar bertambah jelita dan indah, nama yang menyempurnakan arti kehadiranmu. Hanya sejenak waktu, kemudian kami menemukan dua kata itu. Kata-kata yang merepresentasikan perasaan kami, perasaan orang tua kami, perasaan orang-orang di sekitar kami. FARIHA AT-TSABITAH : Orang yang senantiasa bahagia. Begitu kira-kira terjemahannya.

Kami percaya sebuah nama adalah kalimat doa. Kami percaya kebahagianlah yang dicari semua orang. Kami percaya kebahagiaan harus di pelihara sehingga makin bertumbuh. Kata orang, kita harus bahagia dulu sebelum membuat orang bahagia. Tapi, kami menemukan kenyataan bahwa kehidupan ternyata tak selalu menyenangkan. Selalu ada duka dan kesedihan pada setiap alir takdir. Hidup tak selalu mudah, tentu pula tidak membuat kita bahagia. Kami menghayati itu sebagai suatu keniscayaan. Dan itu tersusun rapi dalam bilik-bilik kenangan kami.

Tapi kami tahu hidup tetap berjalan. Tak ada waktu untuk menimbun kesedihan untuk kemudian memasak dan menghidangkannya dalam helat kepedihan. Itu tidak berguna, sama sekali tidak berguna.

Maka kami mendengarkan nasehat orang bijak, bagaimana menghadapi pertarungan di sengketa kehidupan. Resep sederhana dari nasehat itu adalah ikhlas menjalankan apa saja yang digariskan oleh-Nya. Menerima dengan sepenuh hati bahwa kita hidup di bawah kuasa-Nya. Terlebih, kebahagian bukan terletak pada kejadian-kejadian yang membuat kita tertawa. Tidak pula terletak pada kejadian-kejadian yang membuat kita menangis. Tapi kebahagian tertelak pada betapa bijak kita menyikapi segala sesuatu untuk menjadi indah.

Kami berharap kau akan senantiasa bahagia dan senantiasa memancarkan kegembiraan seperti makna dari namamu. Seperti saat kau melarung kidung kesedihan kami menjadikan senandung suka cita.[]


RasidiSamee




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar